Skip to main content

Makan Bubur di Usia 2 Tahun


Sudah beberapa kali, perjalanan kami menjadi penanda milestone tertentu. Kali ini soal makan Kiandra.



Tuntutan berat badan yang ngepas sejak lahir, membuat aku merasa terus-terusan dikejar target. Senin-Jumat makan nasi, roti, bihun, dll di sekolah lancar, tapi Sabtu & Minggu? Selalu dihantui Gerakan Tutup Mulut (GTM).



Kadang alam sudah memberikan tanda-tanda, tapi manusia yang nggak peka. Saat anak kita menolak, sebetulnya dia memberikan sinyal. Sayangnya sinyal itu nggak terbaca olehku. Entah udah berapa bulan aku ‘memaksa’ Kiandra makan bubur supaya cepat ditelan, nggak diemut, jadi aku bisa tenang karena ‘beban’ku kelar hari itu. Padahal dia bosen, pengen makan enak juga kayak mama dan papanya.
ㅤㅤ
Saat konsul ke klinik tumbuh kembang kemarin, aku juga menanyakan soal tekstur makan yang masih sering makan bubur di usia 2 tahun. Saat itu aku bilang ke dokter, "Anak saya masih makan bubur, belum bisa makan padat". Ternyata bukan anakku yang nggak mampu, tapi aku. Aku yang kurang sabar meladeni kemauan anak, menunggunya memamah makanan di mulut kecilnya sampai habis. Hingga puncaknya weekend kemarin Kiandra menolak makan.
ㅤㅤ
Akhirnya aku coba nyuapin Kiandra dengan apa yang aku makan. Responnya? Mau! Lancar!
Nasi pakai gulai otak, nasi uduk pakai bihun goreng dan omelette, nasi pakai mie goreng dan telur, semua lahap disuapin pake tangan mamanya. Kadang dia ambil makannya sendiri kalau Mamas pas nggak lihat mulutnya udah kosong. Cemilan pun udah nggak mau puree buah-buahan. Maunya donat dan buah mangga.




Hampir nangis ngeliat piring kosong yang habis dilahap anakku. Berpikir what have I done all these time. Makannya belum banyak kok, tapi setidaknya udah naik kelas :”) Semoga ini pertanda badai GTM ini akan berlalu. Doakan Kiandra bisa jadi a happy eater ya. Insya Allah!


Love,

Comments

Popular posts from this blog

Hunting Kotak Seserahan

Mencari kotak seserahan itu ternyata susah-susah-gampang. Salah satu pertimbangannya adalah: mau diapakan kotak-kotak itu setelah weddingday? Sejak itu saya mulai mencari inspirasi kotak seserahan yang tidak habis manis sepah dibuang.
Pertama, sempat terpikir untuk menyewa kotak seserahan dari jasa hias dan persewaan kotak seserahan. Beberapa yang terkenal di Jakarta antara lain House of Seserahan dan Istje Seserahan. Setelah tanya harganya, ternyata lumayan mahal juga ya. Jasa hias dan sewa kotak itu mulai dari Rp150.000 per kotaknya. Itupun kotaknya harus kita kembalikan setelah acara selesai. Tapi kualitas kotak seserahan yang disewakan biasanya memang premium quality.
Lalu saya pun mencoba hunting ke Pasar Mayestik. Di lantai basement, ada banyak banget pilihan kotak seserahan.

Harganya bervariasi banget, mulai dari yang very affordable sampai yang costly tergantung budget si calon pengantin. Tapi kemarin saya belum menemukan kotak seserahan yang sreg di hati hehehe.
Kebetulan we…

Yakin Tumbuh Kembang Si Kecil Sesuai Usianya? Cek Pakai Kalkulator Akal Fisik Sosial