Skip to main content

Umroh with Baby Kiandra

Segala puji bagi Allah SWT yang telah mengizinkan keluarga kecil kami pergi beribadah umroh. Alhamdulillaah perjalanan Kiandra mengunjungi Baitullah di usianya yang masih 18 bulan ini berjalan lancar.
ㅤㅤ
neysa.oktanina.com

Apa nggak repot? Sepertinya itu pertanyaan retoris. Ya sudah pasti repot, namanya juga membawa bayi. Tapi sangat beda respon orang Indonesia dengan orang luar saat melihat Kiandra di sana. Beberapa kali mendengar omongan orang, “Kasihan kecil-kecil dibawa umroh”. Lah, dia nggak tahu kalau Kiandra nggak dibawa terus yang jaga siapa? Sebaliknya, kalau respon orang luar, Masya Allah bikin saya tersentuh. Ada yang mengelus-elus kepala Kiandra, menatap sambil berkaca-kaca, sampai memberi permen, cokelat, dll.
ㅤㅤ

Madinah


Perjalanan umroh kami dimulai dari kota Madinah. Di Madinah kami menginap di Hotel Shaza yang jaraknya sangat dekat dengan pintu utama Masjid Nabawi. Karena jaraknya dekat, biasanya Kiandra hanya saya gendong saja menuju masjid. Tapi kalau setelah sholat ada rencana jalan-jalan, saya bawa stroller. Karena stroller tidak diperbolehkan masuk masjid, banyak orang yang memarkir stroller-nya di depan pintu masuk masjid. Tapi kalau saya pribadi, setiap bawa stroller saya lebih memilih sholat di pelataran Masjid Nabawi dan Kiandra tetap duduk di stroller selama saya sholat. Sholat di pelataran juga adem karena dinaungi paying-payung besar dan kalau beruntung bisa dapat karpet.
ㅤㅤ
Setiap masuk Masjid Nabawi, tas kita diperiksa oleh askar yang jaga di pintu masuk. Saya 2 kali diusir tidak boleh masuk masjid karena kedapatan membawa mainan anak. Jadi kalau mau bawa mainan anak bisa diselipkan di tas bagian bawah atau berikan gadget saja.

Di Masjid Nabawi, tempat sholat khusus untuk ibu-ibu yang membawa anak ada di bagian belakang dekat pintu masuk masjid. Mungkin tujuannya agar suara bayi tidak mengganggu jamaah lain yang berada di dalam. Saat sholat, letakkan anak di tempat yang terlihat oleh mata kita. Jangan lupa membawa alas atau sajadah untuk alas duduk anak.
ㅤㅤ

Beribadah di Raudhah

ㅤDi Masjid Nabawi ada sebuah tempat yang disebut sebagai salah satu taman surga, yaitu Raudhah. Rasulullah SAW bersabda,
“Antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga.”
Raudhah ini insya Allah merupakan tempat yang mustajab untuk berdoa. Makanya tidak heran ratusan bahkan mungkin ribuan orang rela berdesakan antri untuk shalat dan berdoa di sana, termasuk saya.
ㅤㅤ
Untuk wanita, pintu menuju Raudhah hanya dibuka setiap habis Subuh, setelah Dzuhur, dan setelah Isya. Untuk masuk ke Raudhah ini perjuangannya luar biasa! Pengalaman saya kemarin, jamaah dari Indonesia/Malaysia dan Turkey masuknya diatur oleh askar, tapi jamaah dari negara lain bebas. Jadi kami dikumpulkan, diminta menunggu (+- 1 jam), dan diperbolehkan masuk jika sudah ada aba-aba dari askar. Banyak jamaah Indonesia yang ‘kabur’ lari ke Raudhah karena tidak mau menunggu sampai diteriaki oleh askar kalau ketahuan. Selama menunggu perbanyak doa dan sampaikan shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW.
ㅤㅤ
Di dalam Raudhah sendiri masya Allah perjuangannya, berdesakan dan dorong-dorongan. Saya dan rombongan selalu bergandengan erat supaya tidak terpisah. Alhamdulillaah kami bisa sholat dan berdoa di sana, tapi nggak bisa lama-lama karena harus bergantian dengan jamaah lain. Area Raudhah ini ditandai dengan karpet warna hijau. ㅤㅤ
Saat ke Raudhah, sebaiknya jangan mengajak anak, kasian karena kondisinya sangat penuh sesak, khawatir malah membahayakan. Tadinya suami berencana membawa Kiandra saat ke Raudhah karena katanya area Raudhah untuk pria tidak sepenuh area wanita, tapi akhirnya mengurungkan niat dan kembali ke hotel, dan beribadah ke Raudhah lain waktu.

Perjalanan dari Madinah ke Makkah

Inti dari perjalanan umroh adalah melaksanakan rukun umroh, yaitu niat ihram (ambil miqat), melaksanakan thawaf mengelilingi Ka’bah, melakukan sa’i di antara bukit Shafa dan Marwah, serta mencukur rambut kepala (tahallul). Bagi jamaah umroh yang memulai perjalanan dari Madinah, miqat biasanya dilakukan di Masjid Bir Ali yang terletak di antara Madinah dan Makkah, persisnya 9 km dari Masjid Nabawi.
ㅤㅤ
Perjalanan Madinah-Makkah ditempuh sekitar 6-7 jam naik bus. Perjalanan ini salah satu yang cukup challenging karena sejak ambil miqat, maka sudah berlakulah larangan umroh. Jadi harus saling mengingatkan untuk menjaga niat umroh dan perlu kerja sama yang baik dengan suami. Bapak-bapak sudah berpakaian ihram, jadi mungkin geraknya sudah tidak begitu leluasa untuk membantu ibu-ibu mengurus keperluan anak. Selama perjalanan 6-7 jam itu kita harus bergantian gendong, pangku, dan menjaga anak, karena sama-sama perlu istirahat dan menjaga stamina untuk melaksanakan rukun umroh berikutnya begitu sampai di Makkah.
ㅤㅤ
Penting untuk diingat! Salah satu larangan umroh adalah memakai wangi-wangian. Jadi untuk ganti popok anak, bawa tisu basah yang non-perfumed dan hindari membawa  lotion atau minyak telon, karena sering refleks memakaikan sehabis ganti popok.

Makkah

Alhamdulillaah kami bertiga dapat melaksanakan 2 kali ibadah umroh dan 1 kali thawaf sunnah, serta 1 kali thawaf wada (thawaf perpisahan) berdua saja karena dilakukan tengah malam.
ㅤㅤ
Tantangan yang kami khawatirkan saat thawaf dan sa’i adalah bagaimana kalau di tengah-tengah thawaf atau sa’i Kiandra rewel minta nyusu atau urgent harus ganti popok karena pup? Nggak ada yang bisa dilakukan selain pasrah dan minta pertolongan Allah. Dan benar, ternyata kekhawatiran kami nggak terbukti. Kiandra mostly tidur selama kami thawaf dan sa’i, sempat terbangun dan menangis karena kepanasan tapi nggak lama dan akhirnya tidur lagi, dan terbangun saat kami sudah selesai ibadah.
ㅤㅤ


Sama seperti di Masjid Nabawi, di Masjidil Haram pun stroller tidak diperbolehkan masuk masjid. Yang ada hanya penyewaan kursi roda kalau membutuhkan bantuan saat thawaf dan sa'i, ini bisa dijadikan opsi pengganti stroller kalau anaknya sudah agak besar tapi rasanya Kiandra masih terlalu kecil malah rawan jatuh karena nggak ada belt-nya. Jadi selama thawaf dan sa'i Kiandra digendong Papas pakai i-Angel (hipseat carrier). Nah, bagaimana hukumnya laki-laki yang memakai gendongan selama umroh? Bukankah laki-laki ber-ihram dilarang memakai pakaian berjahit?
ㅤㅤ
Hal ini sudah kami tanyakan kepada ustadz dan cari-cari sumber lain di internet. Yang dimaksud dengan ‘pakaian berjahit’ itu bukan kain yang ada jahitannya. Tapi yang dimaksud adalah kain yang dijahit sesuai bentuk salah satu anggota tubuh, misal kemeja, celana, jaket, dll. Dengan demikian, memakai gendongan bayi itu diperbolehkan karena bukan termasuk ‘pakaian’ dan hukumnya sama seperti menggunakan tas, jam tangan, atau sabuk yang ada jahitannya. Jadi insya Allah aman 😊🙏🏻

Vaksin

Sebelum pergi umroh semua calon jamaah diwajibkan untuk vaksin meningitis, kecuali anak yang berusia di bawah 2 tahun. Menurut Uti-nya Kiandra, anak di bawah 2 tahun sudah terproteksi melalui vaksin DPT-Hib, karena di dalamnya sudah ada anti meningitisnya. Jadi tinggal minta surat keterangan dari DSA dan fotokopi buku vaksin anak.
ㅤㅤ 
 

Flight

Salah satu tantangan paling berat dalam membawa bayi melakukan ibadah umroh adalah perjalanan yang panjang. Perjalanan umroh kemarin adalah pengalaman pertama membawa Kiandra dalam long-haul flight. Maskapai kami kemarin adalah Turkish Airlines. Kiandra belum beli seat karena hitungan usianya masih infant (di bawah 2 tahun). Kami terbang dari Jakarta ke Istanbul selama 12 jam dan sempat singgah di Turkey beberapa hari, lalu Istanbul-Madinah 6 jam. Pulangnya Jeddah-Istanbul 4 jam, dilanjutkan Istanbul-Jakarta 12 jam. Luar biasa lama ya? Belum lagi ditambah dengan waktu transit, menunggu, imigrasi, dan sebagainya yang tentu saja membutuhkan waktu berjam-jam. Orang dewasa saja pasti lelah, apalagi anak-anak.


Kalau soal fasilitas untuk anak-anak, Turkish Airlines cukup oke menurut saya (biasanya yang membawa bayi dapat seat depan, menyediakan baby food, traveling kit, mainan), kecuali saat kami check-in dari Jeddah. Saat berangkat kami sudah siap-siap bergantian memangku Kiandra, tapi alhamdulillaah kami dapet bulkhead seat jadi legroom-nya luas dan bisa dipasangkan baby bassinet (tanpa kami request sebelumnya).
Tapi lain cerita saat kami pulang dari Jeddah. Subhanallah, petugas bandara Jeddah itu sama sekali tidak friendly, bahkan katanya ada pungli di mana-mana. Boro-boro minta baby bassinet, minta kursi nggak mmencar aja susah. Jadi jangan berharap bisa request macam-macam di sana. Untungnya seat di sebelah kami kosong jadi Kiandra punya seat sendiri.
ㅤㅤ
ㅤㅤSaat berangkat flight kami malam hari jadi pas dengan jam tidur Kiandra. Tapi saat pulang flight-nya pagi, jadi di pesawat lebih banyak beraktivitas.
ㅤㅤ

Tips

Beberapa tips untuk mommies yang mau merencanakan umroh sama anak:
  • Pilih bulan-bulan yang tidak terlalu panas seperti Januari-April, puncak musim panas jatuh di bulan Juli-Agustus.
  • Pastikan naik pesawat apa, transit berapa lama, jadwal kegiatan selama di sana, jadi tahu perlengkapan apa saja yang musti dibawa selama perjalanan.
  • Pilih hotel yang lokasinya terdekat dengan masjid (jika memungkinkan).
  • Ingat, niatnya kita kesana adalah untuk ibadah, jadi jangan merepotkan diri sendiri ya. Bawa semua perlengkapan (baik anak maupun orang tua) secukupnya dan sepraktisnya saja.
  • Atur jam pergi ke masjid. Sebaiknya setengah jam sebelum adzan sudah siap-siap untuk ke masjid. Supaya nggak buru-buru dan bisa dapat tempat yang nyaman.
  • Walaupun niat kita ke sana adalah untuk ibadah, tapi harus tetap memperhatikan kondisi anak, jangan sampai anaknya merasa terforsir.
  • Tawakkal. Kita datang kesana untuk menjawab undangan Allah ke Baitullah. Maka yakinlah segalanya akan dimudahkan. 
Berikut saya juga sudah merangkum apa saja yang harus dibawa saat berencana pergi umroh dengan bayi yang saya susun berdasarkan pengalaman kami kemarin.

Semoga cukup jelas dan bermanfaat. Namun jika masih ada yang ingin ditanyakan, silakan tinggalkan comment di bawah.

Intinya umrah dengan membawa si kecil memang lebih repot, tapi bukan berarti mustahil, malah membuat perjalanan umroh kita lebih berkesan! Untuk yang berniat mengajak anaknya pergi umrah, nggak usah takut dan ragu. Bismillaah yakin berangkat, Insya Allah semua akan dimudahkan 🖤


Love,

 

Comments

Popular posts from this blog

Makan Bubur di Usia 2 Tahun

Sudah beberapa kali, perjalanan kami menjadi penanda milestone tertentu. Kali ini soal makan Kiandra.


Tuntutan berat badan yang ngepas sejak lahir, membuat aku merasa terus-terusan dikejar target. Senin-Jumat makan nasi, roti, bihun, dll di sekolah lancar, tapi Sabtu & Minggu? Selalu dihantui Gerakan Tutup Mulut (GTM).


Kadang alam sudah memberikan tanda-tanda, tapi manusia yang nggak peka. Saat anak kita menolak, sebetulnya dia memberikan sinyal. Sayangnya sinyal itu nggak terbaca olehku. Entah udah berapa bulan aku ‘memaksa’ Kiandra makan bubur supaya cepat ditelan, nggak diemut, jadi aku bisa tenang karena ‘beban’ku kelar hari itu. Padahal dia bosen, pengen makan enak juga kayak mama dan papanya. ㅤㅤ Saat konsul ke klinik tumbuh kembang kemarin, aku juga menanyakan soal tekstur makan yang masih sering makan bubur di usia 2 tahun. Saat itu aku bilang ke dokter, "Anak saya masih makan bubur, belum bisa makan padat". Ternyata bukan anakku yang nggak mampu, tapi aku. Aku yang k…

Hunting Kotak Seserahan

Mencari kotak seserahan itu ternyata susah-susah-gampang. Salah satu pertimbangannya adalah: mau diapakan kotak-kotak itu setelah weddingday? Sejak itu saya mulai mencari inspirasi kotak seserahan yang tidak habis manis sepah dibuang.
Pertama, sempat terpikir untuk menyewa kotak seserahan dari jasa hias dan persewaan kotak seserahan. Beberapa yang terkenal di Jakarta antara lain House of Seserahan dan Istje Seserahan. Setelah tanya harganya, ternyata lumayan mahal juga ya. Jasa hias dan sewa kotak itu mulai dari Rp150.000 per kotaknya. Itupun kotaknya harus kita kembalikan setelah acara selesai. Tapi kualitas kotak seserahan yang disewakan biasanya memang premium quality.
Lalu saya pun mencoba hunting ke Pasar Mayestik. Di lantai basement, ada banyak banget pilihan kotak seserahan.

Harganya bervariasi banget, mulai dari yang very affordable sampai yang costly tergantung budget si calon pengantin. Tapi kemarin saya belum menemukan kotak seserahan yang sreg di hati hehehe.
Kebetulan we…

Yakin Tumbuh Kembang Si Kecil Sesuai Usianya? Cek Pakai Kalkulator Akal Fisik Sosial