Skip to main content

Daycare vs Babysitter



Di era modern sekarang ini, gaya hidup yang semakin mahal dan kebutuhan keluarga yang semakin meningkat 'memaksa' ibu untuk bekerja demi mendapatkan double-income. Fenomena di mana kedua orang tua bekerja ini kemudian menjadi salah satu masalah yang cukup rumit. Dengan bekerjanya ibu, maka orang tua harus memikirkan siapa yang akan mengasuh anaknya saat ditinggal bekerja.
 
Kebanyakan pilihan ibu bekerja memang jatuh pada jasa babysitter atau dititipkan ke kakek-nenek. Namun dalam kasus saya, karena kakek-nenek Kiandra semuanya alhamdulillaah masih bekerja, sehingga tidak ada yang bisa ikut menjaga Kiandra di rumah, akhirnya saya dan suami mantap memasukkan Kiandra ke daycare.
 
Memasukkan anak ke daycare belum menjadi hal yang lazim di negara kita, berbeda sekali dengan di Amerika di mana tersedia daycare hampir di setiap sudut pemukiman. Di kota besar seperti Jakarta pun, belum banyak opsi daycare yang bagus, apalagi di luar daerah. Daycare Kiandra saat ini termasuk daycare favorit, karena merupakan satu-satunya di kawasan perkantoran tempat saya bekerja. Bahkan, saya harus waiting list untuk bisa memasukkan anak saya ke sana sejak hamil 6 bulan, dan baru dapat kabar kalau saya dapat slot saat maternity leave tinggal sebulan.

Hari ini tepat setahun aku kembali dari maternity leave dan menjadi ibu bekerja, juga tepat setahun menitipkan Kiandra sehari-hari di daycare. Mau menitipkan anak di rumah bersama babysitter atau di daycare, sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan. Aku ingin share beberapa kelebihan dan kekurangan tersebut berdasarkan pengalaman pribadi saya hserta hasil sharing dengan sesama ibu bekerja, sehingga bisa menjadi pertimbangan untuk ibu bekerja lainnya.

Daycare:
(+) Kelebihan
  • Rasa kedekatan dengan anak secara psikologis (jika letak daycare dekat dengan kantor).
  • Kesempatan bersosialisasi sejak dini yang lebih luas dengan anak-anak lain seusianya.
  • Makanan disediakan oleh daycare, sehingga ibu tidak perlu repot menyiapkan pagi hari atau malam sebelumnya. Di daycare Kiandra disediakan 3 kali makan besar dan 2 kali snack, dan jadwalnya sudah diberikan di minggu sebelumnya sehingga orang tua bisa waspada jika ada alergi terhadap makanan tertentu.
  • Anak belajar untuk lebih mandiri, contohnya di daycare Kiandra anak yang sudah bisa jalan setelah mandi harus membawa handuknya sendiri, juga diajarkan untuk makan sendiri.
  • Jadwal sehari-hari lebih teratur sehingga membantu menumbuhkan disiplin anak, mulai dari makan, minum susu, tidur siang, bermain hingga belajar.
  • Sarana edukasi karena program pendidikan yang lebih komprehensif.
  • Quality time dengan anak lebih banyak. Ketika banyak yang bilang kasihan anak diajak macet-macetan, saya justru merasa ini adalah quality time tambahan yang nggak didapat kalau anak di rumah. Di mobil kami bias main, menyusu, dan kadang juga menonton karakter favorit Kiandra di TV.
(-) Kekurangan
  • Biaya pendaftaran dan bulanan daycare cukup tinggi, juga ada late charges fee kalau orang tua menjemput anak lebih lambat dari waktu yang telah ditetapkan
  • Gampang tertular penyakit karena terekspos pada lebih banyak anak lain.
  • Kalau anak sakit yang cukup serius atau menular, nggak diperbolehkan masuk daycare, sehingga orang tua harus punya back-up plan misalnya cuti atau mencari babysitter infal.
  • Daycare Kiandra tiap tahunnya tutup seminggu saat hari raya Idul Fitri dan Natal, sehingga orang tua harus punya back-up plan.
  • Anak harus berada lama di mobil dan merasakan macet.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin memasukkan anak ke daycare:
  1. Jarak rumah ke kantor
  2. Letak daycare, lebih baik jika sejalan dengan arah ke kantor
  3. Transport sehari-hari
 
Babysitter
(+) Kelebihan
  • Anak lebih jarang sakit karena tidak banyak terekspos anak lain.
  • Orang tua lebih leluasa mengatur segalanya tentang cara pengasuhan anak, karena tidak terbentur aturan (seperti di daycare).
(-) Kekurangan
  • Faktor keamanan kurang terjamin, terutama jika hanya berdua di rumah.
  • Ibu harus menyiapkan makan anak sebelum bekerja, setidaknya harus mem-brief babysitter lalu babysitter yang masak.
  • Anak bisa merasa kesepian jika hanya berdua dengan babysitter.

Meninggalkan anak untuk bekerja memang tidak pernah mudah. Whatever you choose, remember that at the end of the day, your child still loves you no matter how long you were gone, and that's all that matters. Untuk memperkaya bahasan ini, tentunya saya butuh lebih banyak perspektif dari ibu yang memilih anaknya di rumah bersama babysitter atau kakek-nenek. Untuk itu, jika ada yang ingin menambahkan silakan tulis di comment ya. Semoga sharing ini bermanfaat dan bisa membantu ibu bekerja lainnya :)
 
 

Love,


Comments

Popular posts from this blog

Makan Bubur di Usia 2 Tahun

Sudah beberapa kali, perjalanan kami menjadi penanda milestone tertentu. Kali ini soal makan Kiandra.


Tuntutan berat badan yang ngepas sejak lahir, membuat aku merasa terus-terusan dikejar target. Senin-Jumat makan nasi, roti, bihun, dll di sekolah lancar, tapi Sabtu & Minggu? Selalu dihantui Gerakan Tutup Mulut (GTM).


Kadang alam sudah memberikan tanda-tanda, tapi manusia yang nggak peka. Saat anak kita menolak, sebetulnya dia memberikan sinyal. Sayangnya sinyal itu nggak terbaca olehku. Entah udah berapa bulan aku ‘memaksa’ Kiandra makan bubur supaya cepat ditelan, nggak diemut, jadi aku bisa tenang karena ‘beban’ku kelar hari itu. Padahal dia bosen, pengen makan enak juga kayak mama dan papanya. ㅤㅤ Saat konsul ke klinik tumbuh kembang kemarin, aku juga menanyakan soal tekstur makan yang masih sering makan bubur di usia 2 tahun. Saat itu aku bilang ke dokter, "Anak saya masih makan bubur, belum bisa makan padat". Ternyata bukan anakku yang nggak mampu, tapi aku. Aku yang k…

Hunting Kotak Seserahan

Mencari kotak seserahan itu ternyata susah-susah-gampang. Salah satu pertimbangannya adalah: mau diapakan kotak-kotak itu setelah weddingday? Sejak itu saya mulai mencari inspirasi kotak seserahan yang tidak habis manis sepah dibuang.
Pertama, sempat terpikir untuk menyewa kotak seserahan dari jasa hias dan persewaan kotak seserahan. Beberapa yang terkenal di Jakarta antara lain House of Seserahan dan Istje Seserahan. Setelah tanya harganya, ternyata lumayan mahal juga ya. Jasa hias dan sewa kotak itu mulai dari Rp150.000 per kotaknya. Itupun kotaknya harus kita kembalikan setelah acara selesai. Tapi kualitas kotak seserahan yang disewakan biasanya memang premium quality.
Lalu saya pun mencoba hunting ke Pasar Mayestik. Di lantai basement, ada banyak banget pilihan kotak seserahan.

Harganya bervariasi banget, mulai dari yang very affordable sampai yang costly tergantung budget si calon pengantin. Tapi kemarin saya belum menemukan kotak seserahan yang sreg di hati hehehe.
Kebetulan we…

Yakin Tumbuh Kembang Si Kecil Sesuai Usianya? Cek Pakai Kalkulator Akal Fisik Sosial