Skip to main content

What to Pack in Your Hospital Bag?

Rewrite from September 6, 2016

Yeayyy finally done packing for the hospital bag!

Dari kemarin udah diburu-buru @adrieprimera biar cepetan packing supaya kopernya bisa dimasukin bagasi mobil, jadi kalau sewaktu-waktu tiba saatnya kita udah nggak panik. Aku ngikutin panduan hospital checklist-nya Mothercare dan BabyCenter, tapi ada beberapa yang aku sesuaiin juga karena katanya, basically isi hospital bag adalah pakaian ibu & bayi untuk pulang, dan pakaian bapak selama nunggu di RS. Sisanya, selama di RS, kebutuhan ibu & bayi disediakan oleh RS.

Isinya:
✔️ baju tidur berkancing depan
✔️ undies & nursing bra
✔️ pembalut bersalin
✔️ breast pad
✔️ toiletries (jangan lupa: dry shampoo, jepit rambut, pembersih wajah)
✔️ baju untuk pulang (preferably kancing depan)
✔️ mukena
✔️ baby bodysuits
✔️ baby sleepsuits
✔️ topi, sarung tangan & kaos kaki
✔️ selimut
✔️ kamera
✔️ peralatan relaksasi: speaker buat muter lagu dari HP, massage oil & rencananya mau bawa birthing ball
Also important:
✔️ carseat
✔️ charger
✔️ makeup bag
✔️ ID and or insurance card

Whenever you're ready, we're ready, Adik! 


Update:
Ada 1 yang nggak kepikiran untuk dibawa dan ternyata diminta oleh dokter: GURITA! Gurita ibu melahirkan ini bentuknya seperti korset tapi dari bahan katun dan cara pakainya diikat-ikat, sehingga ukurannya bisa diatur sesuai kebutuhan. Gunanya adalah untuk mempercepat rahim kembali ke ukuran semula. Karena saya nggak pernah diberi tahu sebelumnya untuk membawa, alhasil kita kelabakan dan orang tua saya yang mencarikan di ITC Kuningan selagi saya masih di ruang pemulihan pasca operasi. 2 hari pertama, sebelum diikat, gurita saya dimasukkan "kantong pasir" yang disediakan Rumah Sakit, supaya lebih cepat lagi katanya. Bagi yang akan melahirkan, coba dipastikan dulu ke dokternya apakah dibutuhkan supaya bisa di-prepare lebih dulu.


Love,

Comments

Popular posts from this blog

Makan Bubur di Usia 2 Tahun

Sudah beberapa kali, perjalanan kami menjadi penanda milestone tertentu. Kali ini soal makan Kiandra.


Tuntutan berat badan yang ngepas sejak lahir, membuat aku merasa terus-terusan dikejar target. Senin-Jumat makan nasi, roti, bihun, dll di sekolah lancar, tapi Sabtu & Minggu? Selalu dihantui Gerakan Tutup Mulut (GTM).


Kadang alam sudah memberikan tanda-tanda, tapi manusia yang nggak peka. Saat anak kita menolak, sebetulnya dia memberikan sinyal. Sayangnya sinyal itu nggak terbaca olehku. Entah udah berapa bulan aku ‘memaksa’ Kiandra makan bubur supaya cepat ditelan, nggak diemut, jadi aku bisa tenang karena ‘beban’ku kelar hari itu. Padahal dia bosen, pengen makan enak juga kayak mama dan papanya. ㅤㅤ Saat konsul ke klinik tumbuh kembang kemarin, aku juga menanyakan soal tekstur makan yang masih sering makan bubur di usia 2 tahun. Saat itu aku bilang ke dokter, "Anak saya masih makan bubur, belum bisa makan padat". Ternyata bukan anakku yang nggak mampu, tapi aku. Aku yang k…

Hunting Kotak Seserahan

Mencari kotak seserahan itu ternyata susah-susah-gampang. Salah satu pertimbangannya adalah: mau diapakan kotak-kotak itu setelah weddingday? Sejak itu saya mulai mencari inspirasi kotak seserahan yang tidak habis manis sepah dibuang.
Pertama, sempat terpikir untuk menyewa kotak seserahan dari jasa hias dan persewaan kotak seserahan. Beberapa yang terkenal di Jakarta antara lain House of Seserahan dan Istje Seserahan. Setelah tanya harganya, ternyata lumayan mahal juga ya. Jasa hias dan sewa kotak itu mulai dari Rp150.000 per kotaknya. Itupun kotaknya harus kita kembalikan setelah acara selesai. Tapi kualitas kotak seserahan yang disewakan biasanya memang premium quality.
Lalu saya pun mencoba hunting ke Pasar Mayestik. Di lantai basement, ada banyak banget pilihan kotak seserahan.

Harganya bervariasi banget, mulai dari yang very affordable sampai yang costly tergantung budget si calon pengantin. Tapi kemarin saya belum menemukan kotak seserahan yang sreg di hati hehehe.
Kebetulan we…

Yakin Tumbuh Kembang Si Kecil Sesuai Usianya? Cek Pakai Kalkulator Akal Fisik Sosial