The Day My Life Changed Forever, The Day I First Saw you

Hari yang dinanti-nanti itu tiba. Hari yang merubah hidup kami berdua, menjadi bertiga.

Operasi dijadwalkan mulai pukul 10.00 dan saya sudah dijemput suster ke kamar pada pukul 09.00. Pagi itu saya menangis di kamar rawat inap Rumah Sakit yang aku tempati sejak H-1 sebelum operasi. Walaupun sudah mengikuti berbagai kelas, pelatihan, dan ritual hypnobirthing di rumah setiap hari, rasa takut itu tetap ada. Takut disuntik obat bius yang katanya sangat sakit, takut membayangkan badan saya di-'buka' dan 'tutup', takut biusnya nggak mempan, bahkan ada sedikit perasaan takut nggak terbangun lagi. Semua itu mungkin terjadi, bukan?

Dalam keadaan penuh air mata, saya berpelukan dengan Adrie, Papa, dan Mama. Kemudian saya duduk di kursi roda dan diantar oleh suster dan mereka bertiga ke Ruang Operasi. Papa dan Mama hanya bisa mengantar sampai di pintu, sedangkan Adrie ikut menemani ke dalam. Saya digantikan baju oleh suster, dan Adrie juga memakai baju Ruang Operasi berwarna hijau. Kami ngobrol berdua, berpegangan tangan, saya berbaring dan Adrie duduk di samping saya. Saya masih ingat Adrie mencoba memberikan sugesti positif pada saya dengan mengajak saya membayangkan bahwa sebentar lagi Adik akan hadir ke dunia bersama kita. Kami menunggu beberapa menit di ruang tersebut sembari menunggu dokternya siap.

Ternyata Adrie tidak bisa masuk ke dalam Ruang Operasi bersama saya dari awal. Jadi saya masuk duluan, pindah ke kasur operasi, diminta duduk sambil memdekap bantal, kemudian suster menyuntikkan obat bius dari tulang belakang saya. Saya percaya sugesti positif itu sangat berpengaruh pada saya. Saat disuntik pasti rasanya sakit, but believe me, it's bearable :)
Tidak lama saya sudah mati rasa.

Mungkin sekitar 10 menit kemudian, dokter & suster meminta Adrie masuk. Kami berpandangan saling tersenyum menunggu anak kami lahir. Dan tak lama, tangisan itu terdengar. Masya Allah... Pada hari Minggu, 18 September 2016 pukul 10.23, anak kami lahir. Suster mendekatkan Adik kepada kami dan Adrie menggendongnya, menempelkannya di wajah saya. Air mata pun tidak bisa saya bendung. That was....truly one of the best moment in my life. Kemudian Adik dibawa oleh suster untuk pengecekan ditemani Adrie, dan saya "ditidurkan".



Saya tidak ingat berapa lama persisnya, tapi beberapa jam kemudian saya terbangun di ruang observasi. Rasanya dingiiiiiin sekali di dalam. Suster yang mengetahui saya kedinginan kemudian menyalakan blower penghangat ke dalam selimut saya. Lalu Adrie dipanggil dan menemui saya. Saya bertanya seperti apa rupa anak kami, berat dan tinggi badannya, di mana dia sekarang. Adik terlahir dengan berat 2890 gr dan panjang 47 cm, dan kami sudah sepakat untuk menamainya KIANDRA NAYANEGARA PRIMERA. Ingin sekali bertemu dengannya tapi suster masih mengharuskan saya berada di sana. Lamaaa sekali, beberapa kali saya bertanya pada suster sudah boleh ke kamar belum? Dan sekitar jam 16.00 saya baru dipindahkan ke kamar.

Setelah saya berada di kamar, beres-beres dan semuanya siap, kemudian saya minta suster membawakan anak kami ke kamar. Kiandra datang diantar oleh suster menggunakan box berbahan kaca dengan tirai berenda berwarna putih menutupinya. Suster mengangkatnya yang sedang tidur dan menyerahkannya ke lengan saya. It's unbelievably the beginning of our new lives. Itu adalah hari lahir kami bertiga.


Love,

Comments

Popular Posts